“Di balik lelah yang tak pernah ia keluhkan, seorang kakak mengubah air mata adiknya menjadi senyuman.”
Satu tahun berlalu, setelah siaran berita yang muncul di televisi berhasil merampas segenap canda tawa dalam keluarga kecil itu. Rutinitas berubah. Harapan pun kian bertambah. Tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi mengatakan, bahwa “Aku tidak sanggup. Aku ingin menyerah.” Kata-kata itu terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Inilah kenyataan. Inilah takdir yang harus Grissa terima, tanpa perlu pertanyaan siap atau tidaknya.
Grissa. Seorang Kakak dalam hidup keluarga kecil, yang setiap napasnya adalah harapan bagi Adik dan Neneknya. Peran ganda yang harus dipikulnya saat ini adalah sebuah kewajiban. Begitulah cara Grissa memaknainya.
Setiap hari saat hari terus berganti, ia harus bangun lebih awal dan pulang paling akhir. Ia harus belajar, itulah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Ia juga harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia tidak mungkin menyuruh neneknya untuk membantu bekerja, di saat berjalan pun ia sudah tertatih-tatih. Mana mungkin hati nuraninya begitu tega.
Jadilah ia, setiap hari, selepas pulang kampus pergi ke kedai bakso Pak Umar. Ia bekerja dengan mencuci mangkuk, sendok, dan apapun yang menjadi tugasnya. Ia selalu semangat dan dengan senang hati melakukannya. Semua itu, tentulah demi sebuah senyum hangat dan tawa riang di wajah bulat itu tercipta. Grissa berjanji, ia akan selalu mengusahakan senyuman itu, tawa itu, agar semuanya tidak kembali sirna seperti beberapa waktu lalu.
Seperti pada malam ini, di saat rembulan bergantung indah di langit tanpa awan. Seorang gadis kecil dengan wajah bulat dan pipi yang mengembang, ia menyambut riang kedatangan kakaknya. “Yey, Kak Grissa sudah pulang!” Cia, adik Grissa, berseru riang dari meja makan yang ditemani oleh neneknya.
“Maaf, ya, kalau Kak Grissa agak terlambat malam ini,” ucap Grissa sembari meletakkan dua buah kantong plastik di meja makan. Ia lantas melangkah pergi menuju dapur, mengambil dua buah mangkuk beserta sendok dan garpu. Dari dapur, ia bisa melihat bagaimana raut wajah adik dan neneknya yang begitu bahagia. Air matanya jatuh membasahi wajah. Tiada lagi kata lelah. Apalah arti semua itu, ketika ia bisa mendapatkan kebahagiaan di wajah orang-orang yang begitu ia cintai. Dalam hatinya ia berbisik lembut, “Aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku menyayangi kalian berdua. Selalu.”
“Kak Grissa nggak ikut makan?” tanya Cia di sela-sela makannya. Neneknya ikut menoleh. “Kita bisa makan berdua, Nak. Ayo, ambil piringmu,” pinta neneknya. Grissa tersenyum lembut sambil menggelengkan kepala. “Tidak usah, Nek. Grissa sudah makan, kok. Itu untuk Cia dan Nenek.”
Beberapa detik kemudian, Cia kembali bersuara. Pipinya tampak lebih mengembang dari biasanya karena penuh dengan makanan. “Habiskan dulu makanannya, Cia. Tidak baik kalau makan sambil bicara.” Cia pun menuruti perkataan neneknya.
“Kak Grissa, Cia lagi sedih. Dua hari lagi, sekolah Grissa akan mengadakan pertunjukan seni sederhana. Tadi pagi, Cia dipilih jadi tokoh utama drama. Tapi Cia merasa malu.” Cia tiba-tiba menundukkan kepalanya.
“Malu kenapa, Cia? Cia takut dilihat banyak orang? Atau Cia nggak hapal dialognya?” Grissa bertanya dengan pelan, namun Cia menggeleng cepat.
“Bukan karena itu, Kak. Tapi … Cia malu, karena sepatu yang Cia punya sudah rusak. Depannya sudah menganga. Cia hanya punya itu. Satu-satunya.” Cia kembali menundukkan kepalanya, dan kali ini, suara isakan tangis perlahan terdengar dari arahnya.
Neneknya ikut bersuara setelah mendengar suara isak tangis Cia. “Jangan menangis, Cia. Kita tidak punya uang untuk membeli sepatu baru. Kamu pakai saja yang ada, ya, tidak perlu malu.”
Namun Cia kecil tetap menangis. Ia bahkan belum selesai menghabiskan bakso di mangkuknya. “Sudah-sudah. Cia sayang, jangan menangis lagi, ya? Ayo hapus dulu air matanya dan habiskan baksonya. Kakak akan usahakan, ya,” ucap Grissa sembari menenangkan adiknya.
Keesokan harinya, Grissa menjalani aktivitas seperti biasanya. Di kampus, ia selalu terdiam, memikirkan kesedihan yang dirasakan oleh adiknya saat ini. Ia tidak bisa hanya berdiam diri. Ia harus berpikir dan melakukan sesuatu. Ia tidak boleh membuat adiknya bersedih seperti ini. Setelah mata kuliahnya selesai, Grissa pun bergegas untuk pergi ke kedai bakso Pak Umar. Ia langsung melakukan tugasnya. Mencuci tumpukan mangkuk yang ada di belakang. Semua sendok, garpu, dan peralatan lainnya yang kotor.
Di sela-sela bekerjanya, ia mendengar percakapan Pak Umar dengan seseorang. Katanya, seseorang itu sedang membutuhkan pekerja. Pembantunya sedang cuti. Grissa pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang hanya tersisa sedikit. Sebentar lagi sudah memasuki pukul enam malam. Itu tandanya, pekerjaannya hari ini telah selesai dan ia diperbolehkan pulang. Ia bekerja selama enam jam, terhitung saat ia selesai pulang dari kampus. Sebenarnya, kedai Pak Umar akan tutup pukul sembilan malam. Namun karena Pak Umar adalah orang yang sangat baik hati dan pengertian, ia tidak ingin Grissa bekerja hingga terlalu malam. Apalagi saat mengetahui bahwa ia bekerja setelah pulang dari kampus.
Sebelum pulang, Grissa sempat bertanya perihal seseorang yang tadi sedang mencari pekerja. Awalnya Pak Umar bersikeras menolak untuk memberikan alamat orang itu ketika Grissa memintanya. Ia tidak ingin Grissa sampai kelelahan dengan tambahan pekerjaannya. Namun karena Grissa begitu memaksa dan menjelaskan bahwa keadaannya sedang mendesak, akhirnya Pak Umar pun memberikan secarik kertas yang berisikan alamat. Grissa mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Umar.
Setelah pergi ke alamat yang ada di kertas tersebut, barulah Grissa menyampaikan niatnya untuk bekerja. Ia juga menjelaskan bahwa terkadang ia harus pergi kuliah namun tidak setiap hari. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu yang bernama Pak Hasan dan Bu Risma menerima dirinya. Ia hanya perlu bekerja untuk mencuci pakaian keluarga mereka, dan itu tidak setiap hari, juga bisa dibawa pulang ke rumah. Mereka bahkan memberikan gaji di muka, padahal sebelumnya Grissa sempat ingin negosiasi terkait itu. Karena ia benar-benar membutuhkannya. Ternyata, lagi-lagi, ini berkat kebaikan hati Pak Umar. Pak umar yang mengatakan kepada mereka bahwa aku sedang membutuhkan uang saat ini. Ia begitu bahagia, terharu, hingga tidak menyadari bulir bening itu telah lolos begitu saja membasahi wajahnya. Ia pun seegra mengucapkan terima kasih dan pamit pulang.
Kini, Grissa langsung bergegas untuk mencari toko sepatu. Ia yakin uang yang ia dapat sudah sangat cukup. Ketika sampai di toko, ia pun segera memilih sepatu yang pas untuk ukuran kaki adiknya. Dan tanpa butuh waktu lama, sepatu yang cantik itu sudah berada digenggaman tangannya. Ia pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Sudah pukul sembilan malam saat ia tiba di rumah. Adik dan neneknya sudah tidur. Grissa membuka pintu kamar adiknya dan meletakkan kotak sepatu itu di sana. Ia menatap adiknya sebentar, lalu mencium keningnya dan memakaikan selimut di tubuhnya. Adiknya tampak tertidur pulas. “Selamat malam, adikku sayang. Tidur yang nyenyak, ya. Selamat atas sepatu barunya. Kakak sayang … sekali”
Keesokan harinya, saat sinar mentari mulai memasuki sela-sela jendela kamar. Cia berlari menuju kamar Grissa dengan kedua mata yang berbinar. Senyumnya tercetak jelas di wajah bulatnya itu. “Kak Grissa, benarkah Kakak yang sudah membelikan Cia sepatu baru ini? Cia senang sekali. Cia sangat senang. Cia nggak malu lagi. Cia siap tampil di pertunjukkan seni hari ini,” Cia berseru sambil memeluk erat sepatu barunya.
“Bagus, gitu, dong, semangat! Ayo Kakak bantu siap-siap ke sekolah,” ucap Grissa.
“Terima kasih, Kak Grissa. Cia sayang …. banget sama Kakak. Kakak adalah Kakak yang paling hebat sedunia!” Cia berkata sembari memeluk erat Grissa. Dan Grissa pun membalas pelukan itu dengan penuh rasa bahagia.

Komentar
Posting Komentar