Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Selective Emphathy: Ketika dunia hilang nurani

 Halo, salam hangat untuk teman-teman sekalian yang membaca, semangat menjalankan ibadah puasa. Adanya tulisan ini karena ketidaksengajaan si penulis membaca beberapa postingan di Instagram beberapa hari lalu. Postingan-postingan monyet kecil berasal dari kebun binatang di Jerman bernama Punch yang menemukan kenyamanan pada boneka orangutan, karena dihiraukan oleh induknya. Foto dan videonya sangat cepat sekali tersebar. Banyak media Barat yang menyoroti, kesedihannya menyentuh hati yang memicu gelombang empati global masif. Hal ini cukup menarik, kita bisa tergerak oleh mahluk hidup yang bahkan beda spesies dari kita. Meanwhile, disaat yang sama,  tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina sering kali tidak mendapatkan sorotan emosional yang sebanding dalam banyak media arus utama Barat. R ibuan anak-anak Palestina tanpa Ayah-Ibu menjadi yatim-piatu, kehilangan rasa aman hingga menanggung trauma parah. Tapi minim sekali media barat yang menyoroti anak-anak Palestina t...

Deburan Ombak dibalik Bukit

    Kabut pagi baru saja menampakkan diri di kampung Lestari ketika sebuah mobil Hiace putih terparkir gagah di depan gerbang kantor desa. Di dalamnya, keceriaan sudah meluap-luap. Arga, Fahriyal, Luqman, Rachma, Amel, dan Fahira sibuk memastikan logistik perjalanan aman terkendali, sementara tujuh anak Kampung Lestari tak henti-hentinya bernyanyi penuh kegirangan. "Semua sudah masuk? Jangan sampai ada sandal yang tertinggal!" seru Arga sambil tertawa kecil, memimpin rombongan dengan penuh semangat. Perjalanan menuju Pantai Pulau Merah terasa singkat karena diisi dengan canda gurau yang tak ada habisnya. Begitu pintu geser Hiace terbuka di area parkir pantai, aroma payau laut dan pemandangan bukit hijau yang menjulang di tengah laut langsung menyambut mereka dengan pesona yang memukau. Keseruan di Atas Pasir Tanpa membuang waktu, mereka segera berlari menuju bibir pantai. Bukannya langsung berenang, mereka ju...

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...

Rahasia Hutan Larangan & Pelajaran dari Si Kancil

 "Tersesat di Hutan Larangan karena main petak umpet? 😱🌲 Rachma mengira hari itu hanya tentang sembunyi dan jaga, sampai ia bertemu dengan Kancil cerdik dan Monyet yang rakus. Sebuah petualangan ajaib yang menguji nyali dan persahabatan di tengah tradisi desa yang penuh misteri. Matahari bersinar terik di pinggir Kampung Lestari, namun bayangan pohon-pohon raksasa di Hutan Larangan tampak dingin dan penuh misteri. Arga, si ketua kelompok yang pemberani, menunjuk ke arah pepohonan lebat itu dengan penuh tantangan. "Siapa takut? Kita cuma main petak umpet sebentar di pinggirnya saja," ujar Arga. Fahira, Luqman, Amel, dan Fahriyal setuju dengan antusias. Namun, Rachma sebenarnya masih ragu. Hati kecilnya melarang, tapi ia tak mau dibilang penakut oleh sahabat-sahabatnya. Permainan pun dimulai. Fahriyal mendapat giliran jaga. "Satu... dua... tiga..." Rachma berlari mencari tempat sembunyi yang paling sulit ditemukan. Ia melihat semak berbunga indah jauh di ...

Persahabatan di Kampung Lestari

  (Minggu pagi yang cerah dan sejuk di taman Kampung Lestari. Enam sahabat—Fahriyal, Luqman, Arga, Amel, Rachma, dan Fahira—baru saja selesai berlari bersama tiga putaran. Mereka istirahat sambil duduk di rumput hijau, melihat burung-burung berterbangan bebas di langit biru.)   Fahriyal: Wah, capeknya! Tapi enak banget lari pagi-pagi gini. Luqman: Iya, udaranya sejuk sekali. Arga: Seru! Kita ulang lagi minggu depan, ya? Fahira: Tunggu, aku punya ide! Kita main cublak-cublak suweng di taman ini. Siapa yang mau? (Sambil minum air dari botolnya) Fahriyal: Wah, ide yang cukup menarik, tapi kurang seru. Bagaimana kalau kita bermain Pè-Sapèan? Kalian setuju? Rachma: Sepertinya menarik! Aku ikut. Amel: Ayo kita main Hom-pim-pha dulu untuk menentukan pasangan! Semua: Hom-pim-pah! (Mereka bermain dengan ceria, lalu mulai permainan Pè-Sapèan: berlari bersama sambil saling dorong ke garis finish.) Rachma: Yey, aku bareng Luqman dan Fahira! (Senang, samb...

Ruang Baru di Sudut Hati

Langit tampak kelabu sore ini. Sepertinya hujan akan turun membasahi bumi. Namun, seorang gadis yang tengah duduk sambil memeluk lututnya dengan erat di bawah pohon, tampak tidak peduli akan hal itu. Ia terus menatap ke bawah, pada rumput yang tak pernah bisa menanggapi. Tatapannya kosong. “Mungkin benar kata Mama, aku memang tidak berguna,” ucapnya begitu pelan, nyaris tak terdengar. Gadis itu adalah Renjana. Renjana. Ia adalah anak bungsu di keluarga sederhana. Sosoknya dikenal pendiam dan jarang keluar rumah. Sejak kecil, ia selalu diejek oleh teman-temannya hanya karena memiliki bekas luka di wajahnya. Katanya, itu sangat mengerikan. Semua teman-temannya merasa takut dan memandang wajah Renjana dengan tatapan ketidaksukaan. Hampir semua temannya menjauhinya, kecuali satu orang, Anantasya. Mereka berdua adalah seorang siswa SMA. Saat sedang menuju warung Bu Asih, Anantasya tidak sengaja melihat seorang gadis yang ia kenali lewat sepatu khasnya yang berwarna mencolok. “Dia pasti ...

Persahabatan di Kampung Lestari

  (Minggu pagi yang cerah dan sejuk di taman Kampung Lestari. Enam sahabat—Fahriyal, Luqman, Arga, Amel, Rachma, dan Fahira—baru saja selesai berlari bersama tiga putaran. Mereka istirahat sambil duduk di rumput hijau, melihat burung-burung berterbangan bebas di langit biru.)   Fahriyal: Wah, capeknya! Tapi enak banget lari pagi-pagi gini. Luqman: Iya, udaranya sejuk sekali. Arga: Seru! Kita ulang lagi minggu depan, ya? Fahira: Tunggu, aku punya ide! Kita main cublak-cublak suweng di taman ini. Siapa yang mau? (Sambil minum air dari botolnya) Fahriyal: Wah, ide yang cukup menarik, tapi kurang seru. Bagaimana kalau kita bermain Pè-Sapèan? Kalian setuju? Rachma: Sepertinya menarik! Aku ikut. Amel: Ayo kita main Hom-pim-pha dulu untuk menentukan pasangan! Semua: Hom-pim-pah! (Mereka bermain dengan ceria, lalu mulai permainan Pè-Sapèan: berlari bersama sambil saling dorong ke garis finish.) Rachma: Yey, aku bareng Luqman dan Fahira! (Senang, samb...