Chapter 1:
Terperangkap
Di
hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan
review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di
bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun
betah berlama-lama.
Angin
pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan
halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di
pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar
cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu.
Aku
pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya,
hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah
orang ini?
Hari
itu berbeda.
Dia
ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan
jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku
lihat diam-diam, ia tersenyum sesekali menatapku.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang berhenti sejenak di dalam dadaku.
Senyumnya
manis, seperti makna dari Namanya. Bukan manis yang dibuat-buat, bukan pula
senyum yang dipaksakan untuk terlihat ramah. Senyumnya tulus. Saat aku
melihatnya, seperti ku menemukan tempat berteduh setelah berjalan terlalu jauh.
Senyumnya
begitu menenangkan, menembus pikiran, mengoyahkan hati yang sudah lama
terkunci.
Ketika
gilirannya berbicara, suaranya lembut tapi jelas. Ia menceritakan buku yang
dibacanya dengan cara yang sederhana, namun penuh makna. Sesekali ia tertawa
kecil, dan setiap tawa itu terasa seperti menambah terang di pagi yang sudah
indah.
Aku
mencoba fokus pada diskusi. Benar-benar mencoba. Tapi pandanganku sering kali
kembali padanya. Pada cara ia mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh, pada
caranya mengangguk pelan saat setuju, pada senyum yang seolah tidak pernah
lepas dari wajahnya.
Di
bawah pepohonan yang sangat indah itu. Aku menyadari satu hal, ku mulai terperangkap
dalam senyum yang selalu mekar, ku mulai tersesat dalam alas yang kunamai suka.
Ini
gak bisaa, ku coba cari jalan keluar. Sial!! Ku tersesat semakin dalam, gak
bisa keluar, terkunci dalam gubuk sederhana yang kuberi nama:
Aku
jatuh suka.
Bukan
karena ia berusaha menarik perhatian. Tapi karena di tengah keramaian yang
biasa saja, ia berhasil membuat hatiku terasa lebih tenang dari biasanya.
Sejak
hari itu, pusat kota bukan lagi sekadar tempat berkumpul dan berdiskusi. Ia
menjadi tempat di mana aku pertama kali menyadari. kadang, rasa suka datang
sesederhana melihat seseorang tersenyum di bawah pepohonan yang rindang.
Sekarang…
Bertemu dengan dia adalah candu yang terus
ingin ku ulang.
Semoga
tuhan melindungi kamu,
Senyum
manismu,
Aku
adalah orang yang selalu bahagia melihatmu baik-baik saja
Perempuan
pemilik tatapan teduh..
Kini
mulai ku mengerti maksud dari Wa Hurun In – Mu.
Bumi Mahendra
Oleh: Bumi | Relawan MS
Komentar
Posting Komentar