Pasti sudah tidak asing, dan mungkin bukan hanya penulis yang pernah mengalami hal ini. Sering sekali seseorang ditegur oleh orang lain atau teman karena salah menyebutkan kosakata dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Hal yang paling sering dijumpai adanya “polisi grammar” dan “polisi pronunciation”. Misalnya, pengucapan kata beat sama bit yang dari susunan hurufnya saja hampir mirip, atau semisal ada merek yang bacaannya dalam serapan bahasa asing tapi dilafalkan dengan lafal Indonesia. Menurutku, sebagai orang Indonesia yang dari kecil terbiasa dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah sebagai bahasa utama, lidah keseleo saat mengucapkan kata-kata tertentu itu hal yang wajar. Kadang seseorang sebenarnya sudah sadar kalau dia salah mengucapkan sebuah kata, tapi belum sempat memperbaiki, tiba-tiba sudah dibombardir koreksi dari berbagai arah.
Yang menjadi problem sebenarnya bukan koreksinya, tapi bagaimana cara orang tersebut mengoreksi atau mengkritik yang bikin gak nyaman. Penulis setuju bahwa orang yang belajar memang perlu dikoreksi. Tapi ada perbedaan antara membantu orang belajar dengan menjadikan kesalahan orang lain sebagai tontonan, bahan candaan, atau kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita lebih tahu ( sifat sombong ini namanya).
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi, ada konsep yang disebut psychological safety. Sederhananya, manusia belajar lebih baik ketika mereka merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan melakukan sesuatu tanpa merasa takut salah dan dipermalukan. Nah, budaya yang sedikit-sedikit mengoreksi, menertawakan, atau mempermalukan kesalahan orang lain justru bisa merusak rasa aman tersebut. Buat orang yang kurang percaya diri atau sedang membangun keberanian berbicara bahasa Inggris, pengalaman seperti itu bisa membuat mereka berpikir dua kali untuk mencoba lagi.
Akhirnya yang hilang bukan cuma satu kata ataupun kalimat yang salah terucap. Tetapi mereka juga bisa kehilangan keberanian untuk belajar. Ironisnya, masyarakat kita sering kali ramah kepada orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia, tetapi tidak untuk sesama saudara sebangsanya. Jika ada bule yang salah mengucapkan "terima kasih" atau masih terbata-bata saat berbicara bahasa Indonesia, kebanyakan dari kita justru memaklumi dan mengapresiasi usahanya. Seperti kata "Keren ya, dia mau belajar bahasa Indonesia.". Tetapi ketika sesama orang Indonesia sedang belajar bahasa Inggris dan salah mengucapkan satu dua kata, sebagian orang justru berubah menjadi penguji grammar atau TOEFL berjalan.
Standarnya tiba-tiba tinggi, dan minim untuk toleransi terhadap kesalahan orang lain. Padahal proses belajarnya sama. Budaya yang sering kali mengkritik orang lain, apalagi sampai menjadikannya bahan bullyan, menurutku sudah saatnya dikurangi. Orang yang terdidik tidak hanya dinilai dari seberapa banyak pengetahuannya, tetapi juga dari bagaimana dia memperlakukan orang lain yang sedang belajar. Penulis juga sama-sama lagi belajar untuk menghargai dan menahan diri untuk tidak langsung memberikan penilaian yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk disampaikan.
Btw tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi. Penulis pernah dan masih menjadi bahan bully-an gara-gara masalah seperti ini. Mungkin karena opini ini lahir dari pengalaman yang cukup membekas maka lahirlah tulisan ini. Tetapi beruntungnya, pengalaman tersebut tidak membuat penulis berhenti belajar. Hal ini menjadi pengingat bahwa sebenarnya yang paling dibutuhkan seseorang dalam proses belajar bukan kritik yang lebih keras, melainkan ruang yang mampu membuat mereka merasa cukup aman untuk bertumbuh.
Karena pada akhirnya, salah mengucapkan satu kata bisa diperbaiki dalam hitungan detik. Tetapi keberanian yang hilang karena dipermalukan kadang butuh waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh dan kembali percaya diri.
Oleh: Ayu Nursalama | Relawan MS
Komentar
Posting Komentar