Kabut pagi baru saja menampakkan diri di kampung Lestari ketika sebuah mobil Hiace putih terparkir gagah di depan gerbang kantor desa. Di dalamnya, keceriaan sudah meluap-luap. Arga, Fahriyal, Luqman, Rachma, Amel, dan Fahira sibuk memastikan logistik perjalanan aman terkendali, sementara tujuh anak Kampung Lestari tak henti-hentinya bernyanyi penuh kegirangan.
"Semua
sudah masuk? Jangan sampai ada sandal yang tertinggal!" seru Arga sambil
tertawa kecil, memimpin rombongan dengan penuh semangat.
Perjalanan
menuju Pantai Pulau Merah terasa singkat karena diisi dengan canda gurau yang
tak ada habisnya. Begitu pintu geser Hiace terbuka di area parkir pantai, aroma
payau laut dan pemandangan bukit hijau yang menjulang di tengah laut langsung
menyambut mereka dengan pesona yang memukau.
Keseruan
di Atas Pasir
Tanpa
membuang waktu, mereka segera berlari menuju bibir pantai. Bukannya langsung
berenang, mereka justru memilih permainan tradisional yang mengundang gelak
tawa tanpa henti.
Lempar
Sandal
Luqman
dan Fahriyal menjadi kapten tim. Sandal-sandal ditumpuk dengan rapi, dan
suasana langsung menjadi riuh rendah saat Amel berhasil meruntuhkan tumpukan
sandal dengan sekali lempar yang sempurna. Semuanya berlarian menghindari
kejaran si penjaga tumpukan sambil berteriak kegirangan.
Lompat
Suit
Fahira,
Rachma, dan anak-anak kampung membentuk barisan panjang. Setiap kali menang
pingsut, mereka boleh melompat satu langkah lebar ke depan. Siapa yang paling
cepat mencapai garis finish, dialah sang pemenang.
"Ayo,
Arga! Sedikit lagi sampai!" teriak anak-anak kampung menyemangati Arga
yang sedang beradu nasib dengan jempolnya. Tawa dan sorakan memenuhi pantai,
berpadu sempurna dengan deburan ombak yang menenangkan.
Senja
yang Magis
Setelah
energi terkuras habis, mereka menggelar tikar di bawah pohon cemara yang
rindang. Aroma ayam bakar dan bekal dari rumah mulai menyeruak ke udara. Makan
bersama di pinggir pantai terasa sepuluh kali lebih nikmat daripada di restoran
mewah mana pun.
Menjelang
sore, langit Pulau Merah berubah menjadi palet raksasa yang memesona. Warna
oranye, ungu, dan kemerahan menyatu sempurna di balik siluet pulau yang menjadi
ikon pantai tersebut.
"Foto
dulu! Pose yang bagus, ya!" ajak Rachma sambil menyiapkan ponselnya dengan
antusias.
Mereka
semua berjejer, tertawa lepas menghadap kamera dengan latar belakang matahari
yang perlahan tenggelam ke garis laut. Momen itu terasa abadi, seolah waktu
berhenti hanya untuk mereka.
Perjalanan
Pulang
Adzan
Maghrib berkumandang samar di kejauhan, menandakan bahwa petualangan hari itu
harus berakhir. Dengan berat hati, mereka bergegas membereskan barang-barang.
Hiace putih itu kembali melaju, meninggalkan pantai yang masih menyimpan jejak
tawa mereka di pasir.
Di
tengah perjalanan, rombongan berhenti di sebuah masjid besar untuk menunaikan
ibadah Maghrib dan melepas lelah sejenak. Suasana hening setelah shalat terasa
menenangkan, membawa kedamaian di hati setiap orang.
Sesampainya
di hotel, tubuh yang lelah langsung disambut kasur empuk yang mengundang.
Namun, memori tentang tawa di pasir pantai, kehangatan persahabatan, dan
keindahan senja masih segar terukir di ingatan.
Keesokan
harinya, perjalanan pulang ke Kampung Lestari berlangsung lancar. Mereka sampai
dengan selamat, membawa pulang kulit yang sedikit lebih gelap karena
terpanggang matahari, namun dengan hati yang sangat, sangat bahagia.
Cerpen oleh: Afif | Relawan MS

Komentar
Posting Komentar