Langsung ke konten utama

Persahabatan di Kampung Lestari

 

(Minggu pagi yang cerah dan sejuk di taman Kampung Lestari. Enam sahabat—Fahriyal, Luqman, Arga, Amel, Rachma, dan Fahira—baru saja selesai berlari bersama tiga putaran. Mereka istirahat sambil duduk di rumput hijau, melihat burung-burung berterbangan bebas di langit biru.)

 

Fahriyal: Wah, capeknya! Tapi enak banget lari pagi-pagi gini.

Luqman: Iya, udaranya sejuk sekali.

Arga: Seru! Kita ulang lagi minggu depan, ya?

Fahira: Tunggu, aku punya ide! Kita main cublak-cublak suweng di taman ini. Siapa yang mau?

(Sambil minum air dari botolnya)

Fahriyal: Wah, ide yang cukup menarik, tapi kurang seru. Bagaimana kalau kita bermain Pè-Sapèan? Kalian setuju?

Rachma: Sepertinya menarik! Aku ikut.

Amel: Ayo kita main Hom-pim-pha dulu untuk menentukan pasangan!

Semua: Hom-pim-pah! (Mereka bermain dengan ceria, lalu mulai permainan Pè-Sapèan: berlari

bersama sambil saling dorong ke garis finish.)

Rachma: Yey, aku bareng Luqman dan Fahira! (Senang, sambil tertawa)

 

(Setelah sampai ke garis finish, terjadi keributan kecil di antara mereka.)

Amel: Yey... kita menang!

Fahira: Tidak asik ah… kalian curang. (Sedih, sambil mengerucutkan bibir)

Fahriyal: Apanya yang curang?

Fahira: Kalian mulai duluan!

Luqman: Iya, mulai duluan. Bagaimana kalau kita ulang permainan ini?

Amel: Tidak mau. (Sambil ngejek)

Rachma: Kok gitu sih? Kalian dulu bersahabat dari waktu SD, apa karena bermain sampai bertengkar?

Arga: Sudah, cukup. Menang atau kalah sudah biasa, mari kita saling memaafkan.

(Mereka saling memaafkan. Setelah itu, teman SD Amel datang mendekat, dan ternyata dia adalah saudara jauh Fahriyal.)

Amel: Maaf ya, aku khilaf, dan tidak akan mengulanginya. Menang atau kalah itu sudah biasa. (Sambil berjabat tangan)

Rachma: Iya, Mel, aku juga minta maaf. (Sambil berjabat tangan)

(Tiba-tiba, teman Amel yang lain datang mendekat.)

 

Amel: Loh… ada Farid! Sudah lama gak bertemu. Bagaimana kabarmu?

Farid: Alhamdulillah baik. Kalau kamu gimana?

Amel: Alhamdulillah sehat.

Fahriyal: Beh… Badah ba'na cong? (Bahasa Madura: "Bagaimana kabarmu?")

Farid: Beh… Engghi, Kak. (Bahasa Madura: "Baik, Kak.")

Amel: Rid, kamu kenal sama Fahriyal?

Farid: Iya, kenal. Dia saudara jauhku.

Amel: Oh…

Fahriyal: Sebenarnya dia asli Madura dan sedang liburan ke rumah kakekku. (Sambil menjelaskan dengan ramah)

Amel: Pantas saja kamu susah diajak ke taman minggu kemarin, ternyata ada saudaramu.

Fahriyal: Iya, sudah seminggu di sini, dia dua hari lagi balik ke rumahnya.

Farid: Kalian main apa?

Amel: Main Pè-Sapèan.

Farid: Oh... Ada yang tahu gak pesan moral dari permainan ini?

Fahira: Tidak tahu.

Farid: Sini aku kasih tahu. Pesan moral yang terkandung dari permainan ini adalah memberikan semangat gotong royong dan solidaritas antar warga. Kalian paham?

Semua: Paham!

Fahriyal: Kalian tahu asal permainan ini?

Amel: Tahu. Farid dulu pernah bilang asalnya dari desa Ambunten Tengah dan Tamba Agung Barat, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep.

Fahriyal & Farid: Bagus, Mel!

Arga: Btw, sudah panas nih. Ayo pulang.

Farid: Ayo... (Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan suasana harmonis.)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...

Dia, Kakakku yang Hebat!

  “Di balik lelah yang tak pernah ia keluhkan, seorang kakak mengubah air mata adiknya menjadi senyuman.” Satu tahun berlalu, setelah siaran berita yang muncul di televisi berhasil merampas segenap canda tawa dalam keluarga kecil itu. Rutinitas berubah. Harapan pun kian bertambah. Tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi mengatakan, bahwa “Aku tidak sanggup. Aku ingin menyerah.” Kata-kata itu terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Inilah kenyataan. Inilah takdir yang harus Grissa terima, tanpa perlu pertanyaan siap atau tidaknya.  Grissa. Seorang Kakak dalam hidup keluarga kecil, yang setiap napasnya adalah harapan bagi Adik dan Neneknya. Peran ganda yang harus dipikulnya saat ini adalah sebuah kewajiban. Begitulah cara Grissa memaknainya.  Setiap hari saat hari terus berganti, ia harus bangun lebih awal dan pulang paling akhir. Ia harus belajar, itulah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Ia juga harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak yang...

Kegiatan Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat batch 2 oleh komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM

  Pada hari Minggu, 11 Januari 2026, Komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM telah melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Batch 2 yang bertempat di Desa Tanjung, Kecamatan Pagantenan, Kabupaten Pamekasan, dengan pusat kegiatan di Masjid Baitur Rahman dan lingkungan sekitar desa. Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari Bakti Sosial Batch 1 yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan, sebagai bentuk komitmen MANDHÂLÂ SÈNOM dalam menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pelosok yang membutuhkan. Kegiatan ini diikuti oleh 46 relawan Komunitas MANDHÂLÂ SÈNOM, 4 relawan dari Cahaya Ummat, serta didukung oleh 4 panitia lokal yang turut membantu kelancaran seluruh rangkaian acara. Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan kegiatan bersih-bersih masjid, yang dilakukan secara gotong royong oleh para relawan bersama masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan ibadah yang bersih, nyaman, dan layak digunakan. Setelah itu, M...