Langsung ke konten utama

Ruang Baru di Sudut Hati


Langit tampak kelabu sore ini. Sepertinya hujan akan turun membasahi bumi. Namun, seorang gadis yang tengah duduk sambil memeluk lututnya dengan erat di bawah pohon, tampak tidak peduli akan hal itu. Ia terus menatap ke bawah, pada rumput yang tak pernah bisa menanggapi. Tatapannya kosong. “Mungkin benar kata Mama, aku memang tidak berguna,” ucapnya begitu pelan, nyaris tak terdengar. Gadis itu adalah Renjana.

Renjana. Ia adalah anak bungsu di keluarga sederhana. Sosoknya dikenal pendiam dan jarang keluar rumah. Sejak kecil, ia selalu diejek oleh teman-temannya hanya karena memiliki bekas luka di wajahnya. Katanya, itu sangat mengerikan. Semua teman-temannya merasa takut dan memandang wajah Renjana dengan tatapan ketidaksukaan. Hampir semua temannya menjauhinya, kecuali satu orang, Anantasya. Mereka berdua adalah seorang siswa SMA.

Saat sedang menuju warung Bu Asih, Anantasya tidak sengaja melihat seorang gadis yang ia kenali lewat sepatu khasnya yang berwarna mencolok. “Dia pasti Renjana,” ucap Anantasya dalam hatinya. Renjana memang suka memakai baju dan sepatu dengan warna yang mencolok, hanya karena ia ingin dirinya bisa terlihat. Selama ini, kehadirannya selalu tak dianggap sekalipun raganya berdiri tegak dengan balutan warna yang mentereng. Suaranya tak pernah didengar sekalipun ia berteriak dengan lantang. Hingga dampak dari semua itu, ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam, enggan berbaur, dan memilih untuk menikmati sepi yang setiap detiknya mengiris hati.

“Renjana? Itu kamu, kan?” Anantasya melangkah semakin dekat menuju arah Renjana. Tidak ada respon. Gadis itu masih membeku di tempat. Hingga ketika Anantasya memutuskan untuk duduk di samping gadis itu, barulah ia menoleh. Benar saja seperti dugaannya, gadis itu adalah Renjana. Dia adalah teman sekelasnya.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Renjana? Sebentar lagi hujan akan turun. Ayo, kita pulang!” ajak Anantasya dengan lembut. Namun, Renjana hanya menggeleng lemah. “Pulang? Aku tidak ingin berada di rumah. Aku tidak pantas ada di sana. Aku lebih cocok di sini. Di tempat yang sunyi,” jawab Renjana sembari menatap lingkungan di sekitarnya.

Udara di sekitar mereka tampak menyusut perlahan. Ada sesak yang siap meluap. Anantasya menoleh ke atas. Langit sudah mengeluarkan rintik-rintik hujan yang beberapa detik lagi akan mengalir deras. “Jangan berkata seperti itu, Renjana. Itu rumahmu. Kamu pantas berada di sana. Aku antar kamu pulang, ya? Sudah gerimis ini,” Anantasya berusaha membujuk. Namun usahanya sia-sia, sesak itu telah mengakar kuat, menjadi teman yang tak pernah diharapkan kedatangannya.

Anantasya meraih lengan Renjana dengan lembut. “Kalau kamu nggak mau pulang, kita berteduh saja dulu di tempat pos ronda. Itu lebih aman.” Setelah mengatakan itu, Renjana menatap Anantasya. Sorot matanya menggambarkan dengan jelas apa yang sedang dia rasakan saat ini. Anantasya membalas tatapan penuh kesedihan itu dengan senyuman yang tulus. Lalu mereka berdua segera beranjak dari sana.

Pos Ronda RT 02 RW 03. Begitulah nama yang terpampang di atas pahatan kayu dengan cat berwarna hijau. Renjana dan Anantasya sudah duduk bersebelahan di tempat itu. Untung saja, hujan turun begitu deras ketika mereka telah sampai di sana. Renjana masih terdiam sembari memandangi ratusan bahkan ribuan rintik air yang jatuh bertubi-tubi.

“Apa ada manusia yang terlahir tidak berguna, Anantasya?” Pertanyaan itu menggantung di udara yang dinginnya menusuk ke sela-sela kulit. “Dan mungkinkah manusia itu adalah aku? Renjana.”

Anantasya menoleh pada lawan bicaranya yang masih setia menatap ribuan rintik air yang jatuh. Seolah jika ia memalingkan wajahnya sebentar, rintik itu akan menjadi paku yang menancap ke tanah. Dalam, dan perih. Itu hanya tanah, tetapi Renjana memisalkannya dengan dirinya. “Semua manusia itu berguna, Renjana. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Tidak ada.” Anantasya menekankan kata ‘Tidak ada’ supaya Renjana bisa menggarisbawahinya.

“Tapi aku tidak merasa demikian. Bahkan orangtua ku pun mengatakan aku tidak berguna. Aku tidak bisa apa-apa. Hanya bisa diam seperti benda mati. Aku hanya memiliki detak jantung, deru napas yang seakan sebuah formalitas saja.” Mungkin hanya butuh beberapa detik sebelum bulir bening yang kini sedang berdesakan akan berhasil menerobos.

Anantasya kini bisa memahami bagaimana kesedihan itu sangat membelenggu diri Renjana. Anantasya memeluk erat tubuh Renjana tanpa diminta, menyalurkan kekuatan. Dirinya tahu benar, Renjana adalah gadis yang kuat. Ia hanya perlu diingatkan, bahwa dirinya lebih kuat dari apa yang dia pikirkan. Kekuatan adalah dirinya, adalah sosoknya. Kekuatan adalah Renjana itu sendiri.

“Kamu tahu, Renjana? Kadang, kesedihan yang terlalu membuat kita lupa diri kita yang sebenarnya. Potensi yang kita miliki. Segalanya tentang diri kita sendiri,” jelas Anantasya. Ia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan kembali perkataannya. “Besok, setelah pulang sekolah, aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat indah. Aku yakin kamu akan menyukainya. Sudah cukup lama aku menemui tempat seindah itu. Dan aku ingin kamu menikmati indahnya juga. Bagaimana, kamu mau?”

“Apakah tempatnya seindah itu?” Renjana merasa tertarik untuk mengetahui tempat yang dijelaskan oleh Anantasya. Anantasya langsung mengangguk cepat. Renjana merasa tidak sabar menunggu hari esok. Ia penasaran seperti apa tempat indah yang diceritakan oleh temannya itu.

Keesokan harinya setelah bel pulang sekolah berbunyi, Renjana dan Anantasya segera bersiap untuk menuju tempat penuh keindahan. Renjana melangkah dengan cepat, mendahului Anantasya yang lebih tahu di mana tempatnya. “Pelan-pelan, Renjana, kita hampir sampai, kok,” ucap Anantasya sambil tertawa pelan di akhir.

“Hehe, aku tidak pernah pergi ke tempat indah, Anantasya.” Lagi-lagi jawaban Renjana membuat hati Anantasya bergetar. Sekarang malah dirinya yang mengeluarkan air mata dan Renjana yang bersemangat.

Namun, beberapa saat kemudian, saat mereka tinggal beberapa langkah lagi menuju tempat itu. Langkah kaki Renjana terhenti. “Ada apa, kenapa tiba-tiba berhenti? Kita sudah hampir sampai. Tempat indah itu ada di depan kita.”

Renjana menatap Anantasya begitu dalam. “Aku lupa bertanya. Apakah tempat indah itu adalah sebuah taman penuh bunga yang sepi? Aku takut tempat indah itu dikelilingi oleh banyak orang. Aku tidak ingin mereka ketakutan melihat wajahku, Anantasya.” Renjana mendadak lemas. Bagaimana mungkin ia terlalu bersemangat sampai lupa menyadari bahwa dirinya terlalu buruk dan terkesan tidak pantas berada di tempat yang indah, apalagi banyak orang di sekelilingnya. Anantasya menggenggam erat jemari Renjana. “Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja. Bahkan mungkin beberapa dari dirimu akan membaik setelah ini.”

Setelah melangkah beberapa langkah, kini kedua kaki itu berhenti di depan sebuah bangunan bernuansa biru dan putih. Di atasnya terpampang jelas tulisan “Yayasan Mandhala Senom”

“Yayasan Mandhala Senom?” tanya Renjana saat ia selesai membaca tulisan tersebut. Indra pendengarannya tidak sengaja menangkap suara canda tawa anak-anak, suara langkah kaki yang saling berkejaran, hingga suara dari orang-orang dewasa yang tampak sedang menasihati anak-anak kecil tersebut agar bisa berhenti berlari.

Anantasya mengangguk sembari tersenyum. “Ayo masuk. Aku akan kenalin kamu sama teman-teman baru yang sangat ramah dan lucu. Aku yakin kamu akan menyukai mereka.” Renjana tampak ragu. Ia masih berdiam di tempatnya.

“Ayo, Renjana, kamu tidak perlu takut. Mereka semua orang-orang baik. Percaya padaku, aku sudah cukup lama mengenal mereka.” Melihat raut wajah Anantasya yang bersemangat sekaligus meyakinkan, barulah Renjana melangkah dengan hati-hati di belakang Anantasya.

Setelah mereka berhasil melewati gerbang yayasan, kedatangan mereka langsung disambut meriah oleh anak-anak kecil yang sungguh menggemaskan.

“Kak Tasya! Kak Tasya!”

“Yey, ada Kak Tasya!”

“Wah, Kak Tasya datang sama Kakak cantik!”

Anantasya segera membaur dengan mereka. “Hai adik-adik yang manis. Lagi belajar, ya?”

“Tidak, Kak, kami baru saja selesai belajar. Sekarang waktunya bermain. Siapa Kakak cantik yang bersama Kak Tasya? Kenalin, dong!” ucap salah satu anak kecil yang rambutnya dikuncir dua dengan tali rambut warna-warni.

Anantasya pun langsung menoleh pada Renjana. “Kenalin, Kakak yang cantik ini namanya Renjana. Siapa namanya, adik-adik?”

“Kak Renjana!”

“Renjana!”

“Renjana. Nama yang indah sekali!”

Kedua pipi Renjana mendadak diliputi oleh rona kemerahan. Perkataan yang diucapkan oleh anak-anak kecil di hadapannya mampu membuat sebuah senyum yang jarang terlihat oleh dunia, kini bisa perlahan terbentuk.

“Kak Tasya titip Kak Renjana dulu sebentar, ya? Awas, jangan nakal-nakal loh.” Para anak kecil itu kompak mengangkat tangannya membentuk sikap hormat seperti saat upacara bendera hari Senin.

Renjana memberi kode kepada Anantasya agar tidak meninggalkan dirinya sendirian bersama anak-anak kecil itu. Namun lewat tatapannya yang menenangkan, Renjana akhirnya luluh. Ia akan menunggu bersama para anak kecil yang saat ini sudah menggenggam kedua jemari Renjana.

Setelah Anantasya pergi, anak-anak itu mengajak Renjana untuk duduk di gazebo samping pohon. “Kak, kenalin dong, namaku Zahra. Kalau yang ini namanya Rania. Yang pakai baju kuning namanya Bela, di sampingnya lagi namanya Jena. Nah kalau di samping-sampingnya lagi itu Alin,” terang Zahra panjang lebar mengenalkan teman-temannya.

“Yah, aku kan mau kenalan sendiri sama Kak Renjana,” sahut Alin.

Renjana tersenyum. “Tidak apa-apa. Salam kenal semuanya. Kalian cantik-cantik dan menggemaskan sekali!”

Anak-anak itu gembira mendapat pujian dari Renjana. Mereka mulai mengobrol banyak hal. Anantasya bersama seorang perempuan yang tampaknya sedikit lebih tua darinya sedang mengamati Renjana yang asyik tertawa ria dengan anak-anak.

“Dia Renjana, teman sekolahku, Kak. Dia anak yang baik, pintar juga. Tapi sayang, keluarganya membuatnya mengasingkan diri dari kerumunan. Aku sangat kasihan padanya, Kak, karena itu aku mengajak dia ke sini. Siapa tahu, dengan bertemu adik-adik di sini, suasana hatinya bisa lebih baik. Aku tambah bahagia kalau dia mau ikut bergabung juga jadi relawan di sini,” terang Anantasya kepada perempuan yang diketahui namanya adalah Amelia. Amelia mengerti apa yang disampaikan oleh Anantasya, dan dia berharap Renjana bisa segera pulih dari segala kesedihan yang sebenarnya tidak pantas dipeluknya berlama-lama.

Satu jam kemudian, Anantasya dan Renjana berpamitan kepada kakak-kakak relawan yang ada di sana, termasuk Kak Amelia dan anak-anak yang telah menyambut mereka dengan antusias. Renjana bahkan berpelukan dengan para anak kecil itu. Selama satu jam itu, dia telah mengobrol banyak, bahkan sesekali mereka bertanya soal pelajaran kepada Renjana, dan Renjana pun menjelaskannya dengan baik dan sabar. Anak-anak itu sangat menyukai kehadiran Renjana.

Di perjalanan pulang, Renjana terus saja tersenyum. Senyuman itu menghangatkan hati Anantasya. “Bagaimana, Renjana? Apa kamu suka ada di sana?”

“Aku sangat suka. Aku ingin ke sana lagi, bertemu mereka, belajar dan bermain bersama. Itu benar-benar tempat yang indah, persis seperti yang kamu katakan.”

“Wah, aku senang sekali mendengarnya, Renjana. Apa kamu tertarik untuk bergabung menjadi salah satu relawan di Yayasan Mandhala Senom?” tanya Anantasya. Saat berpamitan tadi, para relawan sudah menjelaskan banyak hal kepada Renjana. Sehingga Renjana tahu siapa orang-orang yang ada di sana, dan apa yang mereka lakukan di sana.

Renjana menganggukkan kepalanya. “Aku tertarik, Anantasya. Aku akan bergabung menjadi relawan di sana sepertimu. Aku merasa lebih baik jika aku berada di sana. Bertemu wajah-wajah yang menggemaskan dan menghabiskan banyak waktu bersama mereka juga.”


Oleh: kak Erika | Relawan MS

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...

Dia, Kakakku yang Hebat!

  “Di balik lelah yang tak pernah ia keluhkan, seorang kakak mengubah air mata adiknya menjadi senyuman.” Satu tahun berlalu, setelah siaran berita yang muncul di televisi berhasil merampas segenap canda tawa dalam keluarga kecil itu. Rutinitas berubah. Harapan pun kian bertambah. Tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi mengatakan, bahwa “Aku tidak sanggup. Aku ingin menyerah.” Kata-kata itu terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Inilah kenyataan. Inilah takdir yang harus Grissa terima, tanpa perlu pertanyaan siap atau tidaknya.  Grissa. Seorang Kakak dalam hidup keluarga kecil, yang setiap napasnya adalah harapan bagi Adik dan Neneknya. Peran ganda yang harus dipikulnya saat ini adalah sebuah kewajiban. Begitulah cara Grissa memaknainya.  Setiap hari saat hari terus berganti, ia harus bangun lebih awal dan pulang paling akhir. Ia harus belajar, itulah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Ia juga harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak yang...

Kegiatan Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat batch 2 oleh komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM

  Pada hari Minggu, 11 Januari 2026, Komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM telah melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Batch 2 yang bertempat di Desa Tanjung, Kecamatan Pagantenan, Kabupaten Pamekasan, dengan pusat kegiatan di Masjid Baitur Rahman dan lingkungan sekitar desa. Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari Bakti Sosial Batch 1 yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan, sebagai bentuk komitmen MANDHÂLÂ SÈNOM dalam menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pelosok yang membutuhkan. Kegiatan ini diikuti oleh 46 relawan Komunitas MANDHÂLÂ SÈNOM, 4 relawan dari Cahaya Ummat, serta didukung oleh 4 panitia lokal yang turut membantu kelancaran seluruh rangkaian acara. Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan kegiatan bersih-bersih masjid, yang dilakukan secara gotong royong oleh para relawan bersama masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan ibadah yang bersih, nyaman, dan layak digunakan. Setelah itu, M...