Halo, salam hangat untuk teman-teman sekalian yang membaca, semangat menjalankan ibadah puasa. Adanya tulisan ini karena ketidaksengajaan si penulis membaca beberapa postingan di Instagram beberapa hari lalu. Postingan-postingan monyet kecil berasal dari kebun binatang di Jerman bernama Punch yang menemukan kenyamanan pada boneka orangutan, karena dihiraukan oleh induknya. Foto dan videonya sangat cepat sekali tersebar. Banyak media Barat yang menyoroti, kesedihannya menyentuh hati yang memicu gelombang empati global masif. Hal ini cukup menarik, kita bisa tergerak oleh mahluk hidup yang bahkan beda spesies dari kita.
Meanwhile, disaat yang sama, tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina sering kali tidak mendapatkan sorotan emosional yang sebanding dalam banyak media arus utama Barat. Ribuan anak-anak Palestina tanpa Ayah-Ibu menjadi yatim-piatu, kehilangan rasa aman hingga menanggung trauma parah. Tapi minim sekali media barat yang menyoroti anak-anak Palestina tanpa orang tua, kelaparan, menghadapi pengeboman dan kenyataan lainnya. Kalian menangisi baby monkey, but how about baby Palestine? The world ignores Palestine children!! Seperti itu kah standar kemanusiaan? Ataukah empatinya bekerja secara selektif saat menyentuh isu kepentingan global?
Fenomena ini pasti menarik perhatian sebagian orang, manusia memiliki kapasitas empati yang luar biasa. Kita bisa bersedih, terharu, dan merasa perlu bersuara. Empati yang tidak hilang, tetapi dipilih. Empati yang muncul deras dalam satu konteks, namun terasa tipis dalam konteks lain. Di sinilah istilah selective empathy menjadi relevan. Media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Bukan pada ketiadaan rasa kemanusiaan, melainkan pada struktur informasi global yang tidak sepenuhnya netral. Empati publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana tragedi itu disajikan, seberapa sering ia ditampilkan, dan dalam narasi apa ia dibungkus.
Selective empathy ini tidak berdiri di ruang hampa. Sejumlah kajian di Indonesia mengelaborasi beberapa teori agenda setting dan framing dalam konteks kontemporer, seperti yang dimuat dalam Jurnal Pendidikan Tambusai pada teori agenda setting yang diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw pada 1972 [1], media tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi sangat menentukan apa yang perlu kita pikirkan. Intensitas pemberitaan memengaruhi persepsi pentingnya suatu isu bagi publik. Semakin sering sebuah kisah ditampilkan dengan narasi emosional dan visual yang kuat, semakin besar kemungkinan publik meresponsnya secara empatik.
Selain itu, teori framing dari Robert Entman dalam kajian Al-Hikmah, Jurnal Dawah [2] menjelaskan bahwa media membentuk realitas dengan memilih aspek tertentu untuk ditonjolkan dan aspek lain untuk diredam. Framing bekerja dengan menentukan bagaimana suatu peristiwa dipahami, siapa yang diposisikan sebagai korban, siapa yang dilihat sebagai pelaku, dan konteks apa yang ditonjolkan atau dihilangkan. Ketika sebuah tragedi dibingkai sebagai konflik dua pihak yang saling menyerang, maka simpati publik cenderung terbagi atau bahkan netral. Namun ketika sebuah tragedi diposisikan sebagai krisis kemanusiaan, perhatian publik akan lebih terfokus pada penderitaan korban, sehingga empati lebih mudah tumbuh.
Data dari lembaga internasional menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Palestina bukanlah isu kecil. Laporan UNICEF [3] dan OCHA [4] (2023–2025) mencatat puluhan ribu anak di Gaza menjadi korban jiwa dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka serta trauma psikologis akibat konflik berkepanjangan. Selain korban jiwa, banyak anak kehilangan akses terhadap air bersih, pangan, layanan kesehatan, dan layanan pendidikan. Bahkan laporan dari UNRWA [5] menyebutkan bahwa sebagian besar populasi anak di Gaza mengalami pengungsian berulang dan hidup dalam kondisi yang sangat rentan. Artinya, yang terjadi bukan sekadar ketegangan politik, melainkan krisis kemanusiaan sistemik yang berdampak langsung pada generasi masa depan.
Ironisnya, beberapa studi analisis media menunjukkan adanya perbedaan diksi dalam pemberitaan konflik. Selective empathy bukan hanya masalah media, ini juga menjadi cermin bagi kita sebagai audiens global. Algoritma media sosial memperkuat apa yang kita respons. Jika publik lebih banyak berinteraksi dengan konten yang ringan dan emosional, sementara melewati tragedi kemanusiaan dengan cepat, maka ekosistem informasi akan mengikuti pola tersebut. Empati yang tidak konsisten akhirnya menjadi budaya.
Konflik Palestina bukan semata persoalan teritorial atau agama, tetapi persoalan hak hidup, hak atas rasa aman, dan hak atas martabat manusia. Ketika akses air, listrik, pangan, layanan pendidikan dan layanan kesehatan menjadi terbatas akibat konflik, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar batas negara, melainkan eksistensi manusia itu sendiri. Padahal, nilai kemanusiaan bersifat universal. Jika kita bisa tergerak oleh kesedihan seekor anak monyet yang memeluk boneka, semestinya kita juga mampu tergerak oleh anak-anak yang kehilangan orang tua, rumah, dan rasa aman akibat konflik bersenjata. Empati tidak seharusnya mengenal batas geografis, ras, agama, ataupun kepentingan politik.
Konflik Palestina menguji konsistensi moral dunia. Ia menantang kita untuk bertanya, apakah empati kita benar-benar lahir dari nilai kemanusiaan, atau hanya dari narasi yang disajikan dan disetujui oleh struktur kekuasaan global?
Di sinilah selective empathy menemukan akarnya, bukan pada ketiadaan rasa kemanusiaan, melainkan pada struktur informasi global yang tidak sepenuhnya netral. Empati publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana tragedi itu disajikan, seberapa sering ia ditampilkan, dan dalam narasi apa ia dibungkus. Jika publik dunia mampu merespons cepat kisah seekor bayi monyet yang kesepian, memang menyentuh dan layak mendapat perhatian, maka secara logika moral, krisis kemanusiaan yang melibatkan ribuan anak semestinya mendapatkan perhatian empati yang jauh lebih besar. Masalahnya bukan pada kapasitas kita untuk peduli. Masalahnya ada pada konsistensi kita dalam peduli.
Kita mungkin tidak memegang senjata. Kita mungkin tidak berada di medan konflik. Tetapi kita memegang satu hal yang sangat kuat, suara dan nurani. Diam bisa menjadi bentuk ketidakpedulian. Sementara kepedulian, sekecil apa pun, adalah cara kita menjaga sisi manusia dalam diri kita. Palestina mengajarkan kita satu hal penting, bahwa kemanusiaan tidak boleh mengenal batas negara, agama, ataupun ras. Jika hari ini kita masih mampu merasa sedih atas penderitaan orang lain, itu artinya hati kita masih hidup.
REFERENSI:
[1] E. Efendi, A. Taufiqurrohman, T. Supriadi, and E. Kuswananda, “Teori agenda setting,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 7, no. 2, pp. 1715–1718, 2023.
[2] S. Aisyah, “Media online Kompas.com edisi 7–9 Oktober 2023,” Kompas.com, Oct. 9, 2023. Available: https://www.kompas.com
[3] UNICEF, “Humanitarian Situation in the State of Palestine,” UNICEF, New York, NY, USA, 2024. Available: https://www.unicef.org/press-releases
[4] United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA),“Hostilities in the Gaza Strip and Israel – Flash Update,” OCHA, 2024. Available: https://www.ochaopt.org
[5] United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), “Situation Report on the Gaza Strip,” UNRWA, 2024. Available: https://www.unrwa.org
By: Hikmatul Maghfiroh | Relawan MS
Picture: ANTARA News

Komentar
Posting Komentar