Sudah lama saya tidak menulis untuk blog Mandhala Senom karena bingung apa yang mau dibahas. Nah, sebenernya tulisan ini adalah penjelasan lanjut dari postingan saya di twitter pada 6 Septemberm2019 lalu
Maaf ya kalau
bahasanya terkesan kasar atau bernada arogan, tapi mari kita coba bedah
postingan tersebut.
Makna
Kesombongan dan Batasannya
Menurut
teman-teman, sombong itu apa? Apakah yang secara terang-terangan bilang ”Ah,
kamu nggak ada apa-apanya ketimbang aku!” atau ”Gini aja? Easy peasy nggak
sih?”. Eits, nyatanya ada loh yang ngak terang-terangan ngungkapin namun masuk
ke sombong. Menurut KBBI, sombong adalah menghargai diri secara berlebihan;congkak;
pongah. Menurut Imam Al-Gazali yang dikutip dari laman berikut, sombong adalah sifat seseorang yang memandang
orang lain hina, hanya dia yang mulia dan mempunyai kebesaran. Berdasarkan 2
definisi tersebut, sombong dijelaskan hanya secara pengertiannya saja tidak
mencangkup cara untuk mengungkapkannya, apakah terang-terangan atau hanya
konsep diri tentang bagaimana dia memandang orang lain. Penulis sempat bertanya
pada salah satu relawan Mandhala Senom tentang batasan dari kesombongan itu,
dia menjawab ”Sombong itu val, nggak hanya berupa perkataan langsung bahwa
dirinya lebih baik dari orang lain, tapi bisa juga tercermin dari caranya
memandang orang lain”. Jika digabungkan 3 definisi tersebut maka kira-kira
definisinya sebagai berikut
”Sombong adalah
sikap membanggakan diri sendiri baik diungkapkan dengan lisan maupun tindakan,
atau hanya sebatas konsep diri”
Batasan dari
kesombongan dapat dilihat dari 2 kacamata, yaitu kacamata diri sendiri dan
orang lain. Kacamata sendiri tentu mudah untuk kita lihat karena diri kita
sendiri yang dapat memutuskannya disertai dengan dasar niat yang menyertainya.
Adapun jika dilihat dari kacamata orang lain, batasan itu bisa jadi abu-abu.
Orang lain nggak bisa ngeliat niat kita atau dasar kita melakukan hal tersebut.
Contoh, niatnya hanya menjaga jarak atau komunikasi dengan seseorang karena ada
prioritas lain, tapi kita dianggapnya memilah teman yang pada akhirnya kita
dianggap sombong. Kacamata orang lain disini bisa juga mengandung unsur iri
dengki atau biasa disebut sebagai penyakit ain (menarik untuk kita bedah juga,
insyallah next time kalau ketemuu momenya ya teman-teman). Pada akhirnya, kita
harus bisa menjaga sikap dan konsep diri kita terhadap orang lain agar tidak
ada prasangkaan kesombongan terhadap diri kita.
Manusia itu
terbatas, kesempurnaan hanya milik Allah SWT
Dalam Al-Qur’an
surah Al-Isra’ ayat 37. Allah SWT berfirman:
Allah SWT
memperingatkan kita untuk menjauhi sifat sombong karena kita tidak sempurna dan
tidak kuasa. Melalui sholat, kita selalu diingatkan untuk menyadari ayat
tersebut. Sujud yang dilakukan kita dalam 5 waktu sebanyak 34 kali dengan
ucapan tasbih kepada-Nya. Secara maknawi, kita mengakui bahwa Allah SWT maha
kuasa dibandingkan kita. Namun, yang jadi pertanyaannya adalah apakah kita
benar-benar paham atau hanya mengikuti kegiatan rutinan saja?
Kita diciptakan tidak sempurna. Jika teman-teman merasa sempurna dari segi fisik, ingatlah bahwa fisik itu tidak abadi. Jika teman-teman merasa sempurna dari segi keilmuan dan fikiran, ingatlah bahwa itu bisa saja terlupakan karena faktor usia. Jangankan persepsi kita sempurna yang muncul, kadang kita merasa kalah atau tidak sempurna jika dibandingkan dengan orang lain. Coba renungkanlah gambar berikut!
Sumber: NASA/JPL-Caltech
Gambar tersebut
adalah upaya kita (manusia) untuk menjelajahi alam semesta melalui misi yang
bernama Voyager 1. Titik putih itu adalah lokasi tata surya kita. Setelaah itu,
coba renungkan pesan dari Carl Sagan melalui tautan berikut .
Kembali ke bahasan tulisan ini, melalui sujud kita mengakui bahwa kita tidak apa-apanya. Sujud termasuk salah satu rukun sholat dan puncak dari ibadah sholat. Begitu besarnya makna gerakan tersebut dalam sholat kita.
Akhir kata, kita tidak bisa sepenuhnya terlepas dari kesombongan. Perlunya saling mengingatkan antara keluarga, teman, dan relawan. Saya berharap, teman-teman relawan Mandhala Senom dapat saling mengingatkan satu dengan yang lain agar kita bisa sama-sama menuai kebaikan dari komunitas ini.
Penulis: Moh. Nouvaldy | Relawan MS



Komentar
Posting Komentar