Pamekasan, Jawa Timur. Malam itu, di sudut ruang basecamp Mandhala Senom, puluhan pasang mata tertuju pada satu titik yang
sama, yaitu sebuah layar besar yang menampilkan hamparan hutan Papua yang hijau
sebagai paru-paru dunia yang kini sedang sesak. Kita tidak sedang menonton
sebuah adegan fiksi, tetapi kita sedang menyaksikan sebuah kenyataan yang
jarang didengar oleh kebanyakan orang. “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman
Kita” adalah sebuah dokumenter hasil kolaborasi Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, dan beberapa organisasi sipil
yang memotret realitas pahit di ujung timur Indonesia. Selaras dengan pernyataan yang disampaikan oleh
saudara Gafi, salah satu relawan Mandhala Senom, yang menyatakan bahwa “ Mungkin film ini cukup provokatif, tapi saya harap teman-teman tidak benci. Cukuplah kita kritis terhadap situasi yang ada, dan bisa menumbuhkan rasa empati kita.” Memilih film ini untuk disaksikan dan dihayati oleh relawan, bahkan masyarakat umum,bertujuan untuk menunjukkan perspektif yang sebenarnya mengenai kondisi di Papua Selatan
yang jarang tersentuh media arus utama.
Bagi kami, “Pesta Babi” awalnya terdengar
seperti sebuah perayaan kebudayaan. Namun melalui film dokumenter karya Dandhy
Laksono dan Cypri Paju Dale ini, makna
tersebut bergeser menjadi sebuah ironi yang menyesakkan. Kami melihat bagaimana
tradisi Awon Atatbon (Pesta Babi) masyarakat suku Muyu, yang seharusnya
menjadi simbol kedaulatan dan kegembiraan, perlahan layu di bawah bayang-bayang
ekskavator. Pesta adat ini merupakan
suatu cara yang dilakukan suku Muyu untuk mempersiapkan diri dan bersatu
mempertahankan wilayahnya. Suku Awyu, Marind dan berbagai suku asli lainnya di
wilayah Merauke hingga Boven Digoel memiliki bentuk perlawanan yang berbeda,
yakni menancapkan 1.800 salib merah sebagai sebuah pernyataan politik, jeritan
spiritual, dan garis batas perlawanan. Gerakan yang dilakukan oleh berbagai
suku di Papua Selatan bermuara pada satu tujuan yang sama, yakni mempertahankan
hutan adat di wilayahnya.
Hutan
merupakan sumber kehidupan bagi suku-suku di Papua. Disebutkan dalam film bahwa
hutan adalah supermarket, bank untuk menyimpan deposit-deposit kekayaan alam,
serta situs budaya masyarakat Papua. Namun, 10 tahun terakhir di balik deru mesin pembangunan yang datang, terselip kegelisahan warga
Papua yang merasa sedang mengalami era penjajahan dalam wajah baru. Tanah Papua kini tak hanya riuh oleh
langkah sepatu lars militer, tetapi juga oleh deru mesin alat berat serta
gerilya para pemodal di sektor pangan dan energi.
Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah
Papua Selatan, khususnya di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, yang masyarakatnya kehilangan wilayah karena ekspansi industri tebu (untuk bioetanol), sawit, dan food estate yang mengubah jutaan hektar hutan adat menjadi lahan industri. Suku
Marind adalah salah satu yang telah kehilangan hutan dan rawa-rawa akibat deforestasi
hutan. Sumber ekonomi mereka diperoleh dari berdagang hasil bumi. Namun, mereka harus kehilangan penopang hidup, yaitu hutan dan rawa yang menjadi sumber pangan
suku Marind.
Alih-alih menghadirkan kesejahteraan yang
rata, ekspansi lahan skala raksasa ini
justru memicu dampak sistemik berupa hilangnya ruang hidup, kerusakan ekosistem
hutan yang menjadi sumber pangan alami, hingga tergerusnya identitas budaya
suku-suku asli seperti Awyu dan Marind. Kehadiran alat berat dan pengawalan
ketat di atas tanah leluhur sering kali menciptakan perasaan terasing di rumah
sendiri. Mereka kehilangan akses terhadap tanah ulayat mereka karena beralih fungsi menjadi
area industri, yang membuat mereka hanya menjadi penonton di tengah deru pembangunan
yang sedang berlangsung. Lalu, apakah ini yang dimaksud dengan pembangunan yang terasa
seperti penjajahan?
Banyak ekspresi yang ditampakkan oleh para penonton setelah berhasil menyelesaikan film berdurasi kurang lebih 95 menit tersebut. Marah, kecewa, dan sedih memenuhi ruang ini, menarik perhatian relawan Mandhala Senom yang sedang berdiri di hadapan para penonton untuk bertanya “Bagaimana perasaan teman-teman setelah menonton film ini? Adakah yang ingin memberikan pendapatnya ?”. Salah satu poin menarik yang disampaikan oleh salah satu penonton bernama Arighi: “ Modernisme seperti apa yang dikejar? Jika pada akhirnya kita tidak punya apa-apa.” Pernyataan ini adalah sebuah tamparan filosofis bagi konsep kemajuan zaman ini. Kalimat ini menggugat definisi “maju” yang selama ini kita agungkan, yang justru mencabut akar kehidupan manusia. Hal ini menjadi refleksi bagi kita bahwa kemajuan tanpa keberlanjutan dan keadilan hanyalah bentuk lain dari perampasan.
Melalui kegiatan nonton bersama film “Pesta Babi” tentang kolonialisme di zaman kita, diharapkan menumbuhkan empati kita terhadap masyarakat Papua. Di Mandhala Senom, kita belajar bahwa kepedulian tidak mengenal batas peta. Malam ini kita telah menyaksikan bahwa “Pesta Babi” adalah duka yang harus kita pukul bersama. Semoga kegelisahan yang kita saksikan malam ini tetap menyala di kepala kita masing-masing. Mari pulang dengan kesadaran baru bahwa di balik setiap jengkal pembangunan yang kita nikmati, ada hak-hak hidup saudara kita di Papua yang sedang dipertaruhkan. Terima kasih telah hadir dan merawat empati bersama kami.
Setelah melalui malam penuh refleksi, diskusi, dan ruang berbagi empati bersama film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, kegiatan ini tidak berhenti hanya pada layar dan percakapan semata. Sebagai bentuk dokumentasi sekaligus pengingat atas suara-suara yang telah kita dengarkan bersama, berikut kami lampirkan press release kegiatan yang memuat rangkaian nonton bersama, sesi diskusi, hingga aksi donasi yang dilakukan oleh relawan dan peserta yang hadir malam itu.
Komentar
Posting Komentar