Langsung ke konten utama

Meneladani Kisah Umar bin Khattab Terhadap Kepemimpinan Amr bin Ash

 Halo-halo, ketemu lagi dengan saya Nouval. Hem, akhir-akhir ini saya sering merenung terhadap kondisi negara, komunitas, keluarga, maupun teman-teman dekat saya. Diantara mereka, pasti ada sosok yang dirasa pantas untuk menjadi pemimpin karena bijak, pandai, dan berwibawa. Eits, tapi meski begitu kadang ada orang yang tidak suka dengannya bahkan sampai melakukan tindakan tidak terpuji misalkan bertengkar atau bahkan menyebarkan fitnah. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada loh salah satu kisah yang sangat luar biasa maknanya dan harus kita teladani agar terhindar dari tindakan tidak terpuji tersebut. Kisah ini melibatkan Umar bin Khattab dengan Amr bin Ash. Yuk disimak tulisan ini 🙂.

Amr bin Ash, sahabat nabi yang baru masuk islam

Pada saat itu, umat Islam akan berperang dengan salah satu suku Arab yang pada dasarnya akan menyerang Madinah. Rasulullah SAW membentuk pasukan yang didalamnya terdapat beberapa sahabat lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, hingga Zubair bin Awwam. Namun, Rasulullah SAW menunjuk Amr bin Ash sebagai pemimpin perang. Beberapa sahabat merasa keberatan dengan penunjukan tersebut karena Amr bin Ash baru 3 bulan memeluk agama Islam dan sebelumnya dikenal sebagai orang yang gencar memusuhi Islam. Rasulullah SAW bersabda:


sumber: https://cmspkh.com/ 

Saat itu musim dingin dan lokasi yang dituju jauh. Ketika malam, udara begitu sangat dingin dan Amr bin Ash memerintahkan untuk tidak menyalakan api. Umar bin Khattab tidak menerimanya sehingga dia mendatanginya, namun Amr  menekankan bahwa instruksinya tidak boleh ditentang. Akhirnya, Umar mendatangi Abu Bakar untuk melaporkannya, namun alih-alih mendukung Umar, Abu Bakar menekankan bahwa perintah pemimpin harus ditaati dan menekankan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah salah dalam menunjuk pemimpin. Akhirnya Umar mau menerimanya dan bersabar.

Besok paginya, ketika waktu sholat subuh, Amr bin Ash berhadast besar. FYI, pemimpin perang diwajibkan untuk menjadi imam shalat meskipun ada orang yang hafal al-qur’an dan bacaannya bagus. Amr tidak dapat menggunakan air ketika itu karena sangat dingin dan memilih untuk bertayamum. Hal tersebut membuat Umar menegur dan tetap menyarankan Amr untuk menggunakan air, namun Amr tetap dengan pendiriannya. Umar melaporkannya kembali kepada Abu Bakar dan Abu Bakar tetap menginginkan Umar seperti sebelumnya. Dengan demikian, Amr bin Ash menjadi imam salat dengan bertayamum. Setelah salat, pasukan Muslim diperintahkan oleh Amr untuk menyerang suku tersebut dengan syarat setiap orang harus berpasangan dan tidak boleh terpisah meski belum selesai berduel dengan lawannya. Singkatnya, pasukan muslim menang sehingga membuat kocar kacir musuh. Salah satu Muslim meneriakkan seruan pengejaran, namun dihalang oleh Amr yang memerintahkan untuk fokus terhadap harta ghanimah. Hal yang demikian membuat Umar merasa risih kembali dan menegur Amr, namun Amr tetap pada pendiriannya. Sahabat lain mendukung Umar karena mereka tau siapa Umar dan Amr (dilihat dari masa lalunya).

Setelah sampai di Madinah, Umar langsung mengadu kepada Rasulullah SAW dan menceritakan semuanya. Rasulullah SAW mempersilakan Amr untuk menjelaskan kepada umat Muslim terkait keputusannya. Amr melarang menyalakan api karena suku yang akan diserang adalah suku besar. Jumlah pasukan muslim kecil dan dikhawatirkan musuh mengetahui jumlah dan lokasi umat muslim. Adapun musuh jumlahnya sangat mampu untuk menyerang dan menghancurkan Kota Madinah. Adapun, keputusan Amr bertayamum dibandingkan dengan mandi besar adalah dia bisa mati kedinginan dan jika dia mati maka pemimpin kaum muslimin tidak ada sehingga tidak melaksanakan amanah Rasulullah SAW. Terakhir, keputusan Amr untuk fokus pada harta ghanimah adalah bahwa jumlah pasukan yang tersisa dari kaum muslimin sangat rentan diserang balik; jika terjadi, maka kembali ke alasan pertama tadi. Rasulullah SAW membenarkan keputusan yang diambil oleh Amr bin Ash.

Nilai keteladanan yang dapat kita ambil

Kisah tersebut mengajarkan kita untuk menaati pemimpin selama mengajak kepada kebaikan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Jika teman-teman ingat, kita diperintahkan oleh agama untuk memilih pemimpin berdasarkan keislamannya, kebijaksanaan, kepandaian, dan ajakan kepada kebaikan. Kita tidak diperintahkan untuk memilih berdasarkan durasi memeluk Islam maupun organisasi atau masyarakat, senior atau tidak (usia), ataupun harta dan wibawa yang dimiliki. Semua pemimpin pasti memiliki kesalahan dan kekurangan, maka tugas sebagai orang yang dipimpinnya adalah berusaha menegur dan tidak menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Jika tersebar, maka teman-teman bisa dikatakan menyebarkan fitnah seperti yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 191 bahwa fitnah lebih kejam dibandingkan pembunuhan.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ketiga saya. Semoga saya selalu istiqamah untuk menulis sehingga teman-teman memiliki topik diskusi ketika kita bertemu. See you 😁



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...

Dia, Kakakku yang Hebat!

  “Di balik lelah yang tak pernah ia keluhkan, seorang kakak mengubah air mata adiknya menjadi senyuman.” Satu tahun berlalu, setelah siaran berita yang muncul di televisi berhasil merampas segenap canda tawa dalam keluarga kecil itu. Rutinitas berubah. Harapan pun kian bertambah. Tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi mengatakan, bahwa “Aku tidak sanggup. Aku ingin menyerah.” Kata-kata itu terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Inilah kenyataan. Inilah takdir yang harus Grissa terima, tanpa perlu pertanyaan siap atau tidaknya.  Grissa. Seorang Kakak dalam hidup keluarga kecil, yang setiap napasnya adalah harapan bagi Adik dan Neneknya. Peran ganda yang harus dipikulnya saat ini adalah sebuah kewajiban. Begitulah cara Grissa memaknainya.  Setiap hari saat hari terus berganti, ia harus bangun lebih awal dan pulang paling akhir. Ia harus belajar, itulah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Ia juga harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak yang...

Kegiatan Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat batch 2 oleh komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM

  Pada hari Minggu, 11 Januari 2026, Komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM telah melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Batch 2 yang bertempat di Desa Tanjung, Kecamatan Pagantenan, Kabupaten Pamekasan, dengan pusat kegiatan di Masjid Baitur Rahman dan lingkungan sekitar desa. Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari Bakti Sosial Batch 1 yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan, sebagai bentuk komitmen MANDHÂLÂ SÈNOM dalam menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pelosok yang membutuhkan. Kegiatan ini diikuti oleh 46 relawan Komunitas MANDHÂLÂ SÈNOM, 4 relawan dari Cahaya Ummat, serta didukung oleh 4 panitia lokal yang turut membantu kelancaran seluruh rangkaian acara. Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan kegiatan bersih-bersih masjid, yang dilakukan secara gotong royong oleh para relawan bersama masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan ibadah yang bersih, nyaman, dan layak digunakan. Setelah itu, M...