Tiba-tiba Membahas. Mandhala Senom X Fasyimora Duta Syariah UIN Madura.
Pamekasan, 21 Juni 2026 Kampung Pendidikan Mandhala Senom mengadakan Program Tiba-Tiba Membahas dengan isu “Democratic Backsliding” berkolaborasi dengan Fasyimora Duta Syariah UIN Madura. Program ini merupakan program rutinan yang diselenggarakan oleh Mandhala Senom di tiap akhir pekan. Pada pelaksanaan TBM kali ini cukup special karena dilakukan di halaman belakang Kampung Pendidikan Mandhala Senom. Dimana biasanya dilaksanakan di Alun-Alun Arek Lancor Pamekasan.
Democratic backsliding (kemunduran demokrasi) adalah proses pelemahan atau pengikisan institusi, norma, dan proses demokrasi secara bertahap. Fenomena ini biasanya dilakukan secara legal dari dalam sistem oleh aktor politik yang sah seperti pejabat eksekutif atau legislatif yang pada akhirnya mengarah pada sistem yang lebih otoriter, Secara konsep, pembalikan arah dari kemunduran demokrasi ini sering disebut sebagai democratic turnaround, kebangkitan demokrasi (democratic resurgence), atau pemulihan demokrasi. Diskusi awali dengan pemaparan negara-negara yang berhasil melaksanakan democratic turnaround oleh Alfian Nur Wahyudi untuk memantik diskusi kali ini. Tujuan sesi pemantik adalah pembuka yang sangat efektif untuk merangsang cara berpikir kritis, memecah kebekuan, dan menyamakan persepsi sebelum masuk ke inti acara. Beberapa negara yang berhasil melaksanakan Democratic Backsliding diantaranya: Nepal, Bangladesh, dan Hungaria. Ketiga negara tersebut memiliki kesamaan latar belakang seperti frustasinya terhadap elit politik tua dan elit lama yang gagal menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak muda, memprotes sistem kuota pendaftaran kerja bagi Pegawai Negeri yang syarat diskriminatif dan nepotisme. Setelah itu dilanjut dengan sesi ulasan oleh saudara M. Ghiyats Rizqy Shafari Abdi sebagai mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Madura. Saudara Ghiyats menjelaskan dampak dari Demokrasi Backsliding diantaranya : 1. Erosi Demokrasi, 2. Beberapa posisi strategis di kursi pemerintahan diisi oleh orang-orang yang kurang berkompeten. Dan ironisnya 3. Bahaya atau dampak negara yang dipimpin oleh pemimpin yang otoriter.
Pelaksanaan diskusi kali ini berlangsung cukup interaktif antara pengulas dan audiens. Kesimpulan yang bisa kami dapatkan setelah sesi diskusi diantaranya : 1. Dibutuhkannya pemimpin yang berintegritas, berintelektual dan berelektabilitas, 2. Resiliensi atau ketahanan masyarakat sipil yang konsisten bersuara dan berjuang. 3. Pemilu yang berkompetisi secara sehat. Tentunya semua hal tersebut membutuhkan konsolidasi dan solidaritas oleh masyarakat umum.
Kita harus percaya bahwa berpikir ulang, memberikan evaluasi bukan tanda kelemahan, akan tetapi tanda kesadaran atas kedewasaan. Tentunya kita ingin anak cucu kita nanti menikmati negeri indonesia yang menjadi tempat untuk bisa membangun mimpi, energi dan semangat positif, negeri tempatnya meneriakkan kebenaran tanpa khawatir di cap sebagai “antek asing” atau bahkan “pembangkan”. Kita analogikan NKRI ini sebagai rumah. Rumah bukan hanya tentang untuk kita, ini rumah untuk jutaan orang. Indonesia yang kita dambakan bukan hanya semata-mata turun dari langit. Akan tetapi lahir dari jerih payah dan harapan. Dari keberanian melihat bahwa kita salah arah, dan Keberanian untuk MENGUBAH ARAH.
Komentar
Posting Komentar