Langsung ke konten utama

Novel Damar Kambang Angkat Tradisi dan Realitas Sosial Masyarakat Madura.

 Pamekasan | Setelah sukses pada acara kelas intensif kepenulisan Agustus kemarin, Mandhâlâ Sènom kembali gelar kegiatan lanjutannya bertajuk “Kilas budaya: Bedah buku  Damar Kambang karya Muna Masyari”. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Ronggosukowati pada Minggu (13/09) kemarin dan dihadiri 82 peserta dari berbagai kalangan.

Pembahasan bedah buku berlangsung sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 11.30 dengan rangkaian acara dimulai dari pemaparan penulis, ulasan dari dua pengulas, serta sesi diskusi bersama peserta. Dengan mengusung tema “Tirai Kusam Tradisi Pernikahan Madura dalam Perspektif Sastra”, Novel Damar Kambang menjadi pilihan untuk dibahas pada bedah buku kali ini, mengingat novel ini menjadikan tradisi sebagai bagian yang menjadi ruh di dalamnya, tidak hanya sebagai cerita dalam bentuk tulisan.

Dalam pemaparannya, penulis menjelaskan Damar Kambang berarti lampu yang mengambang dan menjadi simbol harapan dalam kehidupan pernikahan. Tradisi tersebut pernah hidup dalam lingkungan sosial masyarakat Madura, khususnya pada prosesi rias pengantin, dengan perangkat berupa wadah, minyak kelapa, pelepah pisang, kapas, dan api. Setiap unsur memiliki makna filosofis, seperti wadah berbentuk mangkok tanpa sudut yang dimaknai sebagai harapan agar kehidupan pernikahan berlangsung tanpa paksaan atau pertentangan. Namun pada keseluruhan isi bukunya, Damar Kambang menjelaskan lebih kompleks daripada itu, novel ini mengangkat kekayaan tradisi serta realitas sosial masyarakat Madura.

Proses lahirnya karya tersebut berlangsung cukup panjang karena sempat mengalami jeda dan terbengkalai sebelum kembali dilanjutkan. Penulis juga mengungkapkan bahwa gagasan cerita berkaitan dengan berbagai tradisi dan realitas sosial masyarakat Madura pada era ‘90an. Termasuk praktik perjodohan usia dini, kekhawatiran orang tua terhadap anak, hingga persoalan hantaran pernikahan.

Pengulas pertama, Arinal Haq Fauziyah, membedah novel dari perspektif perempuan dengan mempertanyakan hubungan antara pilihan pribadi dan tuntutan tradisi. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah peran perempuan dengan gambaran “sumur, dapur, dan kasur”, serta bagaimana perempuan ditempatkan dalam kehidupan di masyarakat. Sementara itu, pengulas kedua, Kak Gi, menyoroti bagaimana adat dan budaya dalam novel tidak sekadar menjadi tempelan untuk memperindah latar Madura, melainkan menjadi motor penggerak cerita. Kak Gi juga menyoroti banyak hal yang ada kaitannya dengan berbagai makna tradisi yang mirip, namun berbeda dalam pelaksanaannya.

Pembahasan pada pagi hingga siang itu juga mengaitkan cerita dengan tradisi hantaran pernikahan di salah satu daerah di Kab. Sampang, yang pada masanya berupa rumah beserta isinya yang dibuat dari tiang kayu dan dapat dibongkar-pasang. Persoalan hantaran tersebut dikaitkan dengan harga diri keluarga, yang menunjukkan jika tradisi memiliki konsekuensi sosial yang kuat dalam sebuah lingkungan masyarakat Madura. Diskusi turut menyinggung praktik dispensasi nikah melalui pengadilan serta keberagaman budaya Madura yang terbentuk melalui proses fragmentasi dan pertemuan berbagai kebudayaan seperti yang diulas Kak Gi dalam forum.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penganugerahan-penganugerahan kepada para peserta dan untuk peserta pada kegiatan sebelumnya yang kemudian ditutup langsung oleh pimpinan Yayasan Mandhala Senom sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian kerja sama antara Mandhala Senom dan Kemendikdasmen.

By: Red: -anandayasman | Relawan MS


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...

Dia, Kakakku yang Hebat!

  “Di balik lelah yang tak pernah ia keluhkan, seorang kakak mengubah air mata adiknya menjadi senyuman.” Satu tahun berlalu, setelah siaran berita yang muncul di televisi berhasil merampas segenap canda tawa dalam keluarga kecil itu. Rutinitas berubah. Harapan pun kian bertambah. Tidak ada waktu untuk mengeluh, apalagi mengatakan, bahwa “Aku tidak sanggup. Aku ingin menyerah.” Kata-kata itu terdengar tidak pantas untuk diucapkan. Inilah kenyataan. Inilah takdir yang harus Grissa terima, tanpa perlu pertanyaan siap atau tidaknya.  Grissa. Seorang Kakak dalam hidup keluarga kecil, yang setiap napasnya adalah harapan bagi Adik dan Neneknya. Peran ganda yang harus dipikulnya saat ini adalah sebuah kewajiban. Begitulah cara Grissa memaknainya.  Setiap hari saat hari terus berganti, ia harus bangun lebih awal dan pulang paling akhir. Ia harus belajar, itulah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Ia juga harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak yang...

Kegiatan Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat batch 2 oleh komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM

  Pada hari Minggu, 11 Januari 2026, Komunitas relawan MANDHÂLÂ SÈNOM telah melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Batch 2 yang bertempat di Desa Tanjung, Kecamatan Pagantenan, Kabupaten Pamekasan, dengan pusat kegiatan di Masjid Baitur Rahman dan lingkungan sekitar desa. Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari Bakti Sosial Batch 1 yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan, sebagai bentuk komitmen MANDHÂLÂ SÈNOM dalam menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pelosok yang membutuhkan. Kegiatan ini diikuti oleh 46 relawan Komunitas MANDHÂLÂ SÈNOM, 4 relawan dari Cahaya Ummat, serta didukung oleh 4 panitia lokal yang turut membantu kelancaran seluruh rangkaian acara. Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan kegiatan bersih-bersih masjid, yang dilakukan secara gotong royong oleh para relawan bersama masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan ibadah yang bersih, nyaman, dan layak digunakan. Setelah itu, M...