Langsung ke konten utama

Postingan

MANDHALA SENOM MENANAM EMPATI: MERESAPI PESTA BABI DI TANAH PAPUA

Pamekasan, Jawa Timur. Malam itu, di sudut ruang basecamp Mandhala Senom, puluhan pasang mata tertuju pada satu titik yang sama, yaitu sebuah layar besar yang menampilkan hamparan hutan Papua yang hijau sebagai paru-paru dunia yang kini sedang sesak. Kita tidak sedang menonton sebuah adegan fiksi, tetapi kita sedang menyaksikan sebuah kenyataan yang jarang didengar oleh kebanyakan orang. “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” adalah sebuah dokumenter hasil kolaborasi Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, dan beberapa organisasi sipil yang memotret realitas pahit di ujung timur Indonesia. Selaras dengan pernyataan yang disampaikan oleh saudara Gafi, salah satu relawan Mandhala Senom, yang menyatakan bahwa “ Mungkin film ini cukup provokatif, tapi saya harap teman-teman tidak benci. Cukuplah kita kritis terhadap situasi yang ada, dan bisa menumbuhkan rasa empati kita.” Memilih film ini untuk disaksikan dan dihayati oleh relawan, bahkan masyarakat umum,bertujuan untuk menunjukkan perspe...

“Gathering Inspiratif Relawan Mandhala Senom”

Setiap kilometer yang kita jalani, ada kebaikan yang mengikuti. Tepat pada Jumat malam, 24 April 2026 pukul 23.00 WIB, komunitas relawan Mandhâlâ Sènom memulai perjalanan dari Kabupaten Pamekasan menuju Kota Malang dalam rangka mengikuti kegiatan  Gathering Relawan . Suasana malam yang panjang terasa begitu syahdu, menyelimuti perjalanan dengan nuansa kebersamaan dan kebahagiaan. Menjelang dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di lokasi tujuan. Sorot mata para relawan menatap dengan penuh binar, mencerminkan semangat kerelawanan yang tetap menyala, bahkan di tengah dinginnya udara Kota Malang. Kegiatan pertama diawali dengan agenda Sambang Komunitas yang diselenggarakan di Gedung Malang Creative Center (MCC), berlokasi di Jl. Ahmad Yani No.53, Blimbing, Kota Malang. Gedung itu berdiri megah dengan posisi strategis yang mudah dijangkau, serta  hadir sebagai wadah kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif.   Di gedung inilah, d...

Penuh Makna, Relawan Mandhala Senom Istiqamah Salurkan Kebaikan

       Menyoroti kegiatan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat, Yayasan Mandhala Senom kembali menunjukkan komitmen kepeduliannya melalui program bakti sosial yang digerakkan oleh ketua dan para anggota relawan. Yayasan yang berprinsip kerelawanan ini didirikan pada 15 Februari 2015, mempunyai 4 divisi utama, yaitu: bidang pendidikan, sosial, literasi, dan DCMS. Kegiatan rutinan yang dilangsungkan tiap minggu berupa:   warung sedekah, pembagian sembako, taman baca, bimbingan belajar dan tahfidz gratis, dan masih banyak lagi      Mengawali Februari 2026 ini, mereka sukses menyalurkan bantuan berupa baju layak pakai kepada warga desa yang serta mendistribusikan 100   kardus air minum kemasan di 20 titik masjid area Pamekasan.      Memasuki tanggal 8 Februari 2026, kegiatan sosial berupa penyaluran baju layak pakai memusatkan di Desa Bajur, Kecamatan Waru, Pamekasan. Merupakan salah satu daerah asal relawan, sehingga memu...

Ajaibnya Al-Qur’an tak perlu di ragukan

  Allah maha baik, baik sekali. Baiknya sampai tidak cukup didefinisikan dengan kata-kata yang indah. Dzat-dzatnya yang mulia, dikemas dengan Asma’ul Husna. Jumlah Asma’ul Husna ialah 99 dan memiliki makna mulia semuanya. Sebenarnya, nama-nama terbaik tersebut tidak hanya 99, namun Allah memperkenalkan Asma’ul Husna melalui Al-Qur’an dengan jumlah 99. Kita tahu Al-Qur’an sebagai pedoman umat Muslim. Tepat pada malam 17 Ramadan 13 tahun sebelum Hijriyah (610 Masehi) di Gua Hira, Al-Qur’an diturunkan ke bumi melalui perantara malaikat Jibril. Menjadi mukjizat Nabi akhir, Nabi Muhammad SAW. memiliki jumlah sebanyak 30 juz, 114 surah dan 6.236 ayat (mengikuti riwayat Kuffah) dikumpulkan hingga menjadi lembaran-lembaran mushaf. Turunnya ayat yang berangsur-angsur selama 23 tahun, tepatnya di kota Mekah dan kota Madinah, yang menjadi tempat ibadah umat Muslim dunia yang sangat indah. Penulis bukan penghafal Al-Qur’an, apalagi menjadi ahlul Qur’an. Penulis masih jauh dari kata itu semua....

Selective Emphathy: Ketika dunia hilang nurani

 Halo, salam hangat untuk teman-teman sekalian yang membaca, semangat menjalankan ibadah puasa. Adanya tulisan ini karena ketidaksengajaan si penulis membaca beberapa postingan di Instagram beberapa hari lalu. Postingan-postingan monyet kecil berasal dari kebun binatang di Jerman bernama Punch yang menemukan kenyamanan pada boneka orangutan, karena dihiraukan oleh induknya. Foto dan videonya sangat cepat sekali tersebar. Banyak media Barat yang menyoroti, kesedihannya menyentuh hati yang memicu gelombang empati global masif. Hal ini cukup menarik, kita bisa tergerak oleh mahluk hidup yang bahkan beda spesies dari kita. Meanwhile, disaat yang sama,  tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina sering kali tidak mendapatkan sorotan emosional yang sebanding dalam banyak media arus utama Barat. R ibuan anak-anak Palestina tanpa Ayah-Ibu menjadi yatim-piatu, kehilangan rasa aman hingga menanggung trauma parah. Tapi minim sekali media barat yang menyoroti anak-anak Palestina t...

Deburan Ombak dibalik Bukit

    Kabut pagi baru saja menampakkan diri di kampung Lestari ketika sebuah mobil Hiace putih terparkir gagah di depan gerbang kantor desa. Di dalamnya, keceriaan sudah meluap-luap. Arga, Fahriyal, Luqman, Rachma, Amel, dan Fahira sibuk memastikan logistik perjalanan aman terkendali, sementara tujuh anak Kampung Lestari tak henti-hentinya bernyanyi penuh kegirangan. "Semua sudah masuk? Jangan sampai ada sandal yang tertinggal!" seru Arga sambil tertawa kecil, memimpin rombongan dengan penuh semangat. Perjalanan menuju Pantai Pulau Merah terasa singkat karena diisi dengan canda gurau yang tak ada habisnya. Begitu pintu geser Hiace terbuka di area parkir pantai, aroma payau laut dan pemandangan bukit hijau yang menjulang di tengah laut langsung menyambut mereka dengan pesona yang memukau. Keseruan di Atas Pasir Tanpa membuang waktu, mereka segera berlari menuju bibir pantai. Bukannya langsung berenang, mereka ju...

TEDUH ITU KAMU

  Chapter 1: Terperangkap Di hari minggu kala itu, niatku sederhana. Aku hanya ingin datang ke kegiatan review buku komunitasku di pusat kota. Seperti biasa, kami berkumpul tepat di bawah pepohonan yang sangat indah, teduh, dan selalu berhasil membuat siapa pun betah berlama-lama. Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun hingga terdengar seperti bisikan halus. Beberapa teman sudah duduk melingkar di atas tikar, buku-buku terbuka di pangkuan mereka. Aku datang tanpa ekspektasi apa pun, hanya ingin mendengar cerita-cerita baru dari halaman-halaman yang dibaca hari itu. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Hanya sekilas, tidak sempat kuingat detailnya, hanya samar-samar tentang senyumnya. Namun membuatku bertanya-tanya, siapakah orang ini? Hari itu berbeda. Dia ada lagi, tapi duduk tepat di depanku. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya dengan jelas. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jatuh tepat di wajahnya. Ku lihat diam-diam,   ia tersenyum seseka...